W e l c o m e > Arsip > July 10 > Perceraian Itu...Menular?
 
 
 
 
 
 

Perceraian Itu...Menular?


Sebuah studi menerangkan, bahwa ternyata perceraian ternyata bisa menular kepada orang-orang yang berada di lingkup jejaring sosial. Kesimpulan ini didasarkan pada teori penularan sosial, atau penyebaran sikap atau emosi melalui grup. Dalam hal ini, perasaan yang meninggi dan aksi orang yang mengalami perceraian bisa terkirimkan seperti virus, menyebabkan orang lain untuk ingin bercerai.

Virus perceraian ini tak hanya bisa menular kepada teman-teman atau keluarga dari pasangan yang bercerai, tetapi juga bisa menular setidaknya sejauh dua lingkaran pertemanan dari pasangan pertama yang bercerai. Jadi, misalkan, Anda adalah pasangan yang bercerai, teman dari sahabat Anda, yang mungkin tak Anda kenal pun bisa ikut mengambil keputusan tersebut.

Hasil studi ini makin terbukti atau makin kuat ketika pasangan mantan wakil presiden Amerika Serikat, Al Gore dan pasangannya, Tipper memutuskan tali pernikahan mereka setelah menjalani 40 tahun pernikahan. Tak lama kemudian, anak Al Gore dan Tipper yang pertama, Karenna Gore Schiff pun mengumumkan perpisahannya setelah mengarungi 13 tahun rumah tangga bersama Andrew Schiff.

Riset Fowler mengenai perceraian yang menular tidak meneliti apakah keputusan orangtua untuk berpisah akan memengaruhi cara berhubungan anak-anaknya. Namun, studi ini menganalisa efek perceraian terhadap saudara sekandung. Mereka yang memiliki saudara kandung yang bercerai memiliki kemungkinan 22 persen untuk bercerai pula ketimbang mereka yang tak memiliki saudara kandung yang bercerai. Hal ini ternyata tak jauh dari kenyataan, bahwa ternyata putri pertama Gore tadi bukanlah yang pertama yang mengajukan gugatan cerai terhadap pasangannya. Anak kedua Gore, Kristin sudah mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya, Paul Cusack sejak setahun lalu.

Menurut penelitian, pertemanan memiliki efek lebih besar ketimbang pengaruh saudara kandung ketika menyangkut perceraian. Jika seseorang memiliki sahabat yang bercerai, akan memiliki kemungkinan 147 persen untuk juga bercerai dari pasangannya ketimbang mereka yang tak memiliki teman yang bercerai.

Sementara, jika ada rekan kerja yang bercerai, teman-teman kerjanya pun secara otomatis kemungkinan perceraiannya akan meningkat sebanyak 55 persen ketimbang mereka yang tak memiliki rekan kerja yang bercerai.

Mereka yang sudah memiliki anak kadar kemungkinan terkena virus ini berkurang.

Selain itu, studi ini menemukan perceraian pun memengaruhi ikatan pertemanan. Misal, sebuah pasangan yang bercerai mengadu ke temannya. Temannya ini tidak memutuskan untuk bercerai, tetapi kemudian bercerita ke temannya yang lain, orang ketiga tersebut pun bisa jadi terpengaruh untuk ikut menempuh jalan perceraian.

Ada beberapa alasan mengapa perceraian menciptakan efek riak di jejaring sosial. Konon, masyarakat mulai "pemanasan" atau mulai mencari tahu dan mempelajari mengenai efek atau proses dari perceraian setelah melihat teman-temannya, keluarga, atau rekan kerja yang bercerai. Ketika sebuah pasangan melihat adanya jawaban atas pertanyaan yang menggelayut di pikirannya saat masih berada di dalam pernikahan justru ketika mereka mengakhiri pernikahannya, maka pasangan lain pun bisa saja berpikiran hal yang sama.

Namun, studi ini masih dilakukan dalam skala menengah, sekitar 5 ribu orang, hanya mengambil contoh sampel dari sedikit bagian populasi.

Seorang wanita memberanikan diri untuk berpisah dari pasangannya setelah mendapat "inspirasi" dari sahabat wanitanya yang bercerai. Hal ini memang sangat mungkin saja terjadi. Misalkan ada seorang istri, memiliki teman yang berencana untuk bercerai, hal tersebut bisa membuatnya sedikit lebih berani untuk melakukan hal yang sama.

Perceraian bisa saja menular. Ia mengatakan, bahwa ia melihat kliennya berencana untuk bercerai karena terpicu dari teman-teman pasangan tersebut yang sudah lebih dulu bercerai. Bahkan hal ini juga terjadi pada pasangan yang sudah menikah dan bahagia.
Orang-orang di sekeliling Anda memiliki pengaruh yang cukup besar pada diri Anda. Kadang, hal semacam ini tidak hanya datang dari dalam si orang yang ingin bercerai saja.


"Saat ini kita hidup dalam kultur yang memperbolehkan perceraian. Kita makin mulai berpikir bahwa sebuah pernikahan harus selalu bahagia. Padahal, tak ada pernikahan yang mulus yang bisa memberikan kebahagiaan 24 jam per hari. Kita pun seringkali membuat pasangan kita tak bahagia,"

Bagaimana pendapat Anda? Ada pengalaman mengenai perceraian menular seperti ini?



 
 
 
 
 
 
 
www.sexolog-online.com
2